
Akhir-akhir ini, waktu terasa berjalan begitu cepat. Sepertinya kemarin baru saja hari Senin, gak kerasa sekarang udah hari Sabtu (6/7/19) lagi. Seperti biasa, untuk menjaga kebugaran tubuh dan menjauhkan dari berbagai macam penyakit, saya memilih untuk bersepeda. Mensana in Corpore Sano yang artinya Di Dalam Tubuh yang sehat, Terdapat Jiwa yang Kuat. Selain itu, bersepeda juga bisa menjadi alternatif penghilang stress yang lumayan ampuh.

Kali ini saya ambil trek bersepeda menuju Kabupaten Bandung Barat, yaitu ke Stone Garden. Pada aplikasi Maps, dari rumah Roadtrip (Cimahi) ke Stone Garden ini jarak tempuhnya kurang lebih 16 KM dengan waktu tempuh 45 menit, lalu ditunjang dengan trek yang menurun karena rumah RoadTrip berada di gunung hehehe. Iya menurun, kebayang gak baliknya pasti naik kan? Wkwkwkkwk.

Saya start dari rumah langsung menuju rest area KM 125 tol Purbaleunyi. Di deket rest area ini ada jembatan penghubung yang dibawahnya terdapat jalan tol Purbaleunyi. Jembatan ini adalah spot favorit saya ketika bersepeda. View yang tersedia disini selain bukit Flemengo Hills, terlihat juga sebagian kelurahan Cibeber, Cimahi Selatan. Selain itu, disini juga ada view pembangunan project terowongan untuk jalur kereta api cepat (KCIC) yang menembus Gunung Bohong.


Setelah foto-foto sebentar, saya lanjut lagi gowes menuju Kampung Tipar, dan keluar di Jl. Raya Batujajar, lalu berbelok ke arah Cimareme. Kampung Tipar ini sudah masuk di area Kabupaten Bandung Barat. Hari Sabtu, jalan lumayan padat apalagi saat memasuki Jl. Raya Cimahi – Padalarang. Saya sebisa mungkin mengikuti ritme pengendara motor yaitu dengan mengambil berjalan di sisi sebelah kiri, sesekali saya ke tengah untuk menyalip mobil yang terjebak kemacetan.
45 menit gowes, akhirnya saya tiba di peristirahatan pertama yaitu Al*amart di sekitaran Situ Ciburuy. Maklum, masih noob hehe. Perjalanan dekatpun saya butuh istirahat untuk sekedar minum dan meluruskan kaki. 10 menit berlalu, saya pun lanjut lagi.. Memasuki desa Citatah, udara nampaknya tidak terlalu bagus, itu disebabkan oleh banyaknya pabrik pengolahan batu kapur atau marmer sehingga menghasilkan debu-debu yang berterbangan. Belum lagi asap hitam yang keluar dari pabrik-pabrik tersebut. 15 menit gowes akhirnya saya sampai di Stone Garden.

Stone Garden ini dikelola oleh masyarakat setempat. Harga Tiket Masuk (HTM) nya hanya 8K saja. Murah bukan? Ditunjang dengan fasilitas yang menurut saya sudah cukup baik. Stone Garden ini cukup luas, jika kita merasa kebingungan atau butuh bantuan, kita bisa meminta tolong kepada warlok (warga lokal) yang stand by di post sebelum mendaki ke puncak Stone Garden. Saya sendiri sempat meminta bantuan warlock untuk pengambilan foto dan itu free atau gratis hehe.

Akhirnya saya mulai mendaki, sepeda saya parkir gak jauh dari area jalur pendakian. Tadinya malah mau saya bawa ke atas tapi berat coyyy hehe. Kalo ada yang tanya, “sepeda aman emang kang dibawa naik?” Aman aja, asal di tenteng yah jangan di naikin. Kalo di naikin takutnya jatuh ngebentur batu yang tajem dan segede gaban bisa cilaka nanti. Rumah sakit jauh soalnya wkwkwkwk. Lalu kalo ada yang tanya, “Kang sepeda aman emang di parkir di area jalur pendakian?”. Aman aja, Bismillah do’ain aja sebelum ditinggal biar yang gondol bisul 7 turunan 🤣🤣.

Ohya, Jarak dari post warlok ke puncak paling 200 meteran. Deket kan? Yoi, jadi kalian gak perlu bawa karabiner, pool tracking dan alat-alat mendaki lainnya. Tapi disarankan menggunakan sepatu safety, running shoes atau kets karena banyak batu-batu tajem disini. Dan juga kalo dateng di atas jam 9 pagi, harap bawa payung yah, biar kulit gak eksotis hehe. Dari puncak Stone Garden, kita bisa melihat view hamparan luas Gunung Karst Masigit. Sayang, gunung ini tidak utuh lagi bentuknya akibat banyaknya aktivitas pertambangan. Ya, saya Cuma bisa berharap dengan adanya aktivitas penambangan tersebut tidak lantas merusak alam di sekitarnya. Apalagi di daerah ini banyak sekali terdapat situs-situs bersejarah seperti Goa Pawon yang dimana pada Goa tersebut banyak sekali di temukan tulang belulang manusia prasejarah.

Stone Garden ini jika dikelola dengan baik, bisa menjadi wisata yang syarat akan edukasi. Konon, dulu juga di tempat ini adalah titik dasar dari Danau Bandung Purba. Pokoknya, banyak sekali hal yang bisa kita dapat dan pelajari ketika mengujungi Stone Garden ini. Selain itu, disini juga tersedia area untuk kita camping. Gimana ada yang minat?
Waktu sudah menunjukan pukul 12.00. Sudah waktunya turun dan pulang gaiss.. Sebelum pulang, saya tidak lupa mampir di sebuah warung yang sebenarnya dulu juga saya pernah mengunjungi warung tersebut. Jadi, ceritanya pada tahun 2017, saya pernah mengunjungi Stone Garden dan mampir juga di warung yang sama. Penjaga warung kala itu adalah seorang ibu-ibu umur 55 tahunan. Dan sekarang berganti menjadi sepasang suami istri. Sambil pesan indomie dan kelapa degan, saya iseng bertanya, “Teh, Ibu yang dulu disini kemana ya?”. Dan si Teteh menjawab “Udah meninggal A, karena sakit. Ouh, Aa teh pelangganya Ibu ya?”. Saya jawab aja kalo saya pernah kesini dan di layani oleh Ibu tersebut. Tetehnya melanjutkan “Iya A, itu Ibu saya dan sekarang udah meninggal karena sakit. Sempet dibawa ke rumah sakit tapi gak ke tolong”. Saya cuma bisa ikut sedih.

Singkat cerita indomie dan kelapa degan sudah habis. OK, saya siap gowes menuju rumah dengan segala persiapannya, karena trek kali ini menanjak, macet, ditambah bus, truk bayawak dan truk-truk ekspedisi lainnya. Alhamdulillah, sejam perjalanan berlalu saya pun sampai dengan selamat di rumah. Semua trek tanjakan saya lalui dengan gowes hehe. Lumayanlah buat noob 😉👌 .
Berikut Stone Garden dari jepretan kamera.







