Featured

Trip ke Curug Citambur via Ciwidey.

Foto ini merupakan titik terdekat ke Air Terjun Citambur.

Ceritanya ketika hari Rabu (3 April 2019) lalu, mumpung awal bulan dan gabut akhirnya bikin plan untuk riding. Bandung bagian utara, bosen. Bandung bagian barat hmmm, panas hehe. Bandung timur, macet pastinya.. OK, akhirnya ditentukanlah pilihan bahwa riding di hari itu menuju ke Bandung Selatan mengikuti arahan dari masbro @dimas.dp yang vote di insta story untuk trip ke Ciwidey hehehe.

Perjalanan dimulai dari Cimahi via Margaasih. Jalanan mulus luss lusss tanpa ada celah lubang hehe. Tumben nih, good job buat dinas terkait di Kabupaten Bandung. OK, lanjut lagi.. Perjalanan dirasa padat setelah melewati RSUD Soreang, selain banyak bus pariwisata yang berseliweran karena biasanya bulan April – Mei adalah bulannya para pelajar untuk study tour atau karyawisata. Selain itu, banyak juga keluar masuk truk pasir dari bukit.. bukit apa ya namanya ๐Ÿ˜ฉ . Selain itu juga banyak segerombolan ABG pecinta touring yang mumpung tanggal merah mereka melakukan short trip ke Ciwidey. Namanya ABG, bawa motor nya seperti apa pasti kalian tau sendiri hehe. Saya yang udah tua namun jiwa muda ngalah aja.

Melipir dikit ke warung sekitar cari Indomie dan Kopi.

Disini senang disana senang, hati gembira dan mengucap syukur ketika sudah sampai di riuh pepohonan pinus tanda memasuki area wisata Ciwidey. Perasaan lega dan segar kala itu membunuh kejenuhan yang selama ini melanda… duh! Perjalanan lanjut sampai akhirnya saya tertarik dengan salah satu warung di pinggir jalan. Cuaca dingin gini, enak kali ya Indomie pake telor. Dan sayapun memutuskan untuk mampir di sebuah warung. Seketika perut kenyang, saya lanjut gas menuju perkebunan Rancabali. Terus mau kemana? OK, saya putuskan untuk menuju Curug Citambur. Citambur ini masuk di Kecamatan Karangjaya, Kelurahan Pasirkuda, Kab. Cianjur.

View yang tersaji ketika memasuki Perkebunan Sinumbra.

Kalo ada yang tanya, dari Ciwidey ke arah mana sih Citambur tuh? Itu loh, kalo lurus menuju Situpatenggang sedangkan belok kanan menuju Cipelah dan Cianjur. Nah, kita ambil jalan belok kanan menuju Cipelah dan Cianjur. Saya yakin gak akan nyasar kok hehe.

Sebagian jalan menuju Citambur berupa Beton, aspal mengelupas, dan sebagian batu dan tanah.

Ohya di komenan postingan sebelumnya, ada yang tanya, “kang  jalan disini bagus gak?”. Jalannya dari Cimahi menuju Ciwidey bagus. Namun begitu masuk di perkebunan Rancabali agak rusak. Kalo di %, jalan dari Rancabali ke Citambur kurang lebih jalan bagusnya sekitar 30% hehe. Sisanya 70% terdiri dari jalan aspal memgelupas/bolong, batu dan tanah. Siapa tau nih ya, dengan saya posting seperti ini, pak @ridwankamil cek tkp dan segera perbaiki jalur menuju Cianjur khususnya Citambur ini. Biar para wisatawan gak kecewa gitu.

Jalur menuju Citambur ini sangat asik buat kita merefresh mata, hati dan pikiran hehe. Ya, I feel recharge pokoknya ketika kesini tuh. Seger banget, sepenglihatan mata terbentang kebun-kebun teh dan bukit yang menjuntai. Termasuk danau kecil dan sungai yang airnya sangat-sangat jernih. Duh, rasanya ingin tinggal disini aja gitu hahahaha.

Dari Rancabali, untuk menuju Citambur kita akan melewati perkebunan teh Sinumbra. Nah sedikit bahas tentang Sinumbra, ada yang membuat saya tertarik yaitu bangunan-bangunan bergaya Belanda yang sepertinya sekarang di jadikan rumah dinas karyawan PTPN VIII perkebunan Sinumbra. Bahkan, beberapa juga ada yang di jadikan penginapan seperti di postingan saya sebelumnya. Tapi gitulah…. Sepertinya horor hehehe.

Gimana, mau nginep sini? ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

Baca di beberapa blog, Sinumbra ini bisa di jadikan objek buat teman-teman fotografi. Langit yang masih cerah, jauh dari polusi cahaya memungkinkan kita buat mengambil objek milky way. Selain itu, kita juga bisa menginap di rumah-rumah penduduk dan merasakan nasi liwet yang di bakar menggunakan kayu bakar, lalu meminum teh yang daunnya kita petik dan keringkan sendiri.

Kesegaran yang hakiki ketika sampai di Curug Citambur ini.

Finally, after 4 hours trip… Sampe juga di curug citambur hehe. Total perjalanan 4 jam.. Kok lama banget sih? ya karena perhentiannya banyak. Kalo di cek pada aplikasi maps. Perjalanan hanya memakan waktu 2 jam 30 menit saja jika ditempuh dari rumah RoadTrip (Cimahi) ke Curug Citambur.

Tahun 2017, tempat ini masih berupa bukit yang penuh dengan tanaman liar dan sebagian kebun.

Btw, tiket masuk disini murah meriah loh. Hanya 10K saja per orang. Dengan wana wisata yang luar biasa. Ohya, ada tapinya nih.. Untuk menuju beberapa spot foto seperti rumah kurcaci, lalu danau yang di tengahnya ada love, lalu tangga menuju bukit selfie di kenakan htm 5K. Lalu ada lagi spot untuk mencapai titik bawah/sungai aliran dari air terjun citambur, itu juga dikenakan biaya lagi sebesar 5K.

Titik terbawah menuju aliran sungai Curug Citambur. Untuk menuju tempat ini, dikenakan biaya masuk lagi sebesar 5K.

Lingkungan di sekitar Citambur ini masih asli disertai pemandangan panorama yang sangat indah. Curug ini memiliki keistimewaan yaitu tingginya yang mencapai sekitar 130 meter. Memiliki tiga tingkatan curug, yaitu 12 meter, 116 meter dan 2 meter. Terletak pada ketinggian 1.400 mdpl menyebabkan airnya sangat dingin dan selalu diliputi kabut tipis. Suara jatuhan airnya sangat keras bergemuruh (sumber : alampriangan.com) .

Sayangnya karena berada pada tebing yang curam serta aliran air yang deras, kita tidak bisa berenang di bawahnya.

Kalo kita berdiri di bukit sebrang dari Curug Citambur ini, kita akan melihat bentangan dinding tebing yang mengular. Saya jadi penasaran dan berhasil menemukan beberapa artikel yang membahas tebing tersebut. Jadi, dinding tebing ini membentang di sepanjang kaki Gunung Kendeng bagian barat-barat daya. Belum diketahui dengan pasti bagaimana tebing di sini bisa menjulang begitu tinggi. Kalo dilihat berdasarkan batuan pembentuk tebing tersebut ialah bahwa tebing ini berupa ujung dari aliran lava yang tererosi. Gunung Kendeng sendiri adalah gunung api tipe B yang saat ini masih aktif mengalirkan lavanya ke lereng sekitarnya (sumber : iqbalputra.wordpress.com) . Nah, dari dinding tebing ini tidak hanya terdapat Curug Citambur, tetapi ada juga Curug Cisabuk, Curug Tilu. Memang yang saat ini pengelolaannya cukup baik hanya Curug Citambur.

Dinding yang membentang tersebut sepertinya merupakan aliran lava yang membeku selama ribuan tahun dari Gunung Api yang ada disekitarnya.

Ada beberapa versi mitos yang ada di Curug Citambur ini. Salah satunya adalah legenda yang melekat dalam ingatan warga Kampung Karawa Getok, Desa Karang Jaya, Kacamatan Pasir Kuda, Kabupaten Cianjur soal air terjun atau Curug Citambur Cianjur, Jawa Barat. Konon, Prabu Tanjung Sanghyang Anginan (raja) yang kini dijadikan nama Desa Pasir Angin yang bersebelahan dengan Curug Citambur sering membersihkan diri, mandi dan bertapa di curug tersebut setiap Hari Jumat. Dengan gagahnya, Sanghyang datang ke curug tersebut dengan menggunakan seekor kuda lengkap dengan pengikutnya yang menabuh alat musik tambur atau dalam Bahasa Sunda dinamai dog-dog. “Begitulah kenapa kecamatan ini dinamai Kecamatan Cikuda karena Saghiyang dulu sering menaiki kuda sebagai alat transportasi pada masanya dan curug ini dinamai Curug Citambur karena dulu para pengikutnya menabuh alat musik tambur atau dog-dog”, kata Pengelola Air Terjun Citambur Yuche (sumber : detik.com) .

View Arah Selatan dari Curug Citambur.

Asal usul nama Curug Citambur ini banyak sekali versinya. Warga sekitar Umi Nunung (61) menerangkan, menurut kepercayaan nenek moyangnya dulu, kawasan di mana curug tersebut berada merupakan Kerajaan Tanjung Anginan, yang rajanya bergelar Prabu Tanjung Sanghyang Anginan. Kerajaannya berada tepat di depan pintu masuk, yang kini digunakan sebagai Kantor Desa Karang Jaya. Ada ritual unik saat Sanghyang ketika akan menuju pemandian. “Lantunan alat musik tambur kerap ditabuh para pengikutnya, sampai-sampai terdengar cukup jauh sehingga warga mendengarnya,” ungkapnya. Dulu kata Umi, tidak mudah untuk sampai ke curug ini, karena harus melalui sejumlah desa dan menembus hutan. “Versi lainnya menyebutkan, bahwa air terjun ini dinamai Citambur karena air yang turun dari atas tebing mengeluarkan suara berderum mirip dengan alat musik tambur yang dimainkan dengan cara dipukul seperti kendang,” pungkasnya.

Butiran air hasil deburan air dan angin membuat suasana disini terasa sangat segar.

Info yang beredar, Curug Citambur ini lebih tinggi dan volume air jatuhannya lebih besar jika dibandingkan dengan Curug Cimahi, di Cisarua, Kab. Bandung Barat dan juga Curug Malela, di Rongga, Kab. Bandung Barat.


Sepedahan Ke Stone Garden Yuk?

Stone Garden, wisata yang syarat edukasi di Kab. Bandung Barat

Akhir-akhir ini, waktu terasa berjalan begitu cepat. Sepertinya kemarin baru saja hari Senin, gak kerasa sekarang udah hari Sabtu (6/7/19) lagi. Seperti biasa, untuk menjaga kebugaran tubuh dan menjauhkan dari berbagai macam penyakit, saya memilih untuk bersepeda. Mensana in Corpore Sano yang artinya Di Dalam Tubuh yang sehat, Terdapat Jiwa yang Kuat. Selain itu, bersepeda juga bisa menjadi alternatif penghilang stress yang lumayan ampuh.

Jembatan Tipar, sepi sendiri aku benci ๐Ÿคฃ

Kali ini saya ambil trek bersepeda menuju Kabupaten Bandung Barat, yaitu ke Stone Garden. Pada aplikasi Maps, dari rumah Roadtrip (Cimahi) ke Stone Garden ini jarak tempuhnya kurang lebih 16 KM dengan waktu tempuh 45 menit, lalu ditunjang dengan trek yang menurun karena rumah RoadTrip berada di gunung hehehe. Iya menurun, kebayang gak baliknya pasti naik kan? Wkwkwkkwk.

Jarak tempuhnya 16 KM dengan trek menurun.

Saya start dari rumah langsung menuju rest area KM 125 tol Purbaleunyi. Di deket rest area ini ada jembatan penghubung yang dibawahnya terdapat jalan tol Purbaleunyi. Jembatan ini adalah spot favorit saya ketika bersepeda. View yang tersedia disini selain bukit Flemengo Hills, terlihat juga sebagian kelurahan Cibeber, Cimahi Selatan. Selain itu, disini juga ada view pembangunan project terowongan untuk jalur kereta api cepat (KCIC) yang menembus Gunung Bohong.

Project Tunnel KCIC di Gunung Bohong, Cibeber, Cimahi Selatan.
View keluarahan Cibeber, Cimahi Selatan dari projek Tunnel KCIC.

Setelah foto-foto sebentar, saya lanjut lagi gowes menuju Kampung Tipar, dan keluar di Jl. Raya Batujajar, lalu berbelok ke arah Cimareme. Kampung Tipar ini sudah masuk di area Kabupaten Bandung Barat. Hari Sabtu, jalan lumayan padat apalagi saat memasuki Jl. Raya Cimahi โ€“ Padalarang. Saya sebisa mungkin mengikuti ritme pengendara motor yaitu dengan mengambil berjalan di sisi sebelah kiri, sesekali saya ke tengah untuk menyalip mobil yang terjebak kemacetan.

45 menit gowes, akhirnya saya tiba di peristirahatan pertama yaitu Al*amart di sekitaran Situ Ciburuy. Maklum, masih noob hehe. Perjalanan dekatpun saya butuh istirahat untuk sekedar minum dan meluruskan kaki. 10 menit berlalu, saya pun lanjut lagi.. Memasuki desa Citatah, udara nampaknya tidak terlalu bagus, itu disebabkan oleh banyaknya pabrik pengolahan batu kapur atau marmer sehingga menghasilkan debu-debu yang berterbangan. Belum lagi asap hitam yang keluar dari pabrik-pabrik tersebut. 15 menit gowes akhirnya saya sampai di Stone Garden.

Biasanya, titik macet pada Jalur Padalarang (Bandung – Cianjur) berada di simpang Tagog Apu.

Stone Garden ini dikelola oleh masyarakat setempat. Harga Tiket Masuk (HTM) nya hanya 8K saja. Murah bukan? Ditunjang dengan fasilitas yang menurut saya sudah cukup baik. Stone Garden ini cukup luas, jika kita merasa kebingungan atau butuh bantuan, kita bisa meminta tolong kepada warlok (warga lokal) yang stand by di post sebelum mendaki ke puncak Stone Garden. Saya sendiri sempat meminta bantuan warlock untuk pengambilan foto dan itu free atau gratis hehe.

Gapura selamat datang di jalur pendakian Stone Garden.

Akhirnya saya mulai mendaki, sepeda saya parkir gak jauh dari area jalur pendakian. Tadinya malah mau saya bawa ke atas tapi berat coyyy hehe. Kalo ada yang tanya, โ€œsepeda aman emang kang dibawa naik?โ€ Aman aja, asal di tenteng yah jangan di naikin. Kalo di naikin takutnya jatuh ngebentur batu yang tajem dan segede gaban bisa cilaka nanti. Rumah sakit jauh soalnya wkwkwkwk. Lalu kalo ada yang tanya, โ€œKang sepeda aman emang di parkir di area jalur pendakian?โ€. Aman aja, Bismillah doโ€™ain aja sebelum ditinggal biar yang gondol bisul 7 turunan ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ.

Kalo ada yang tanya, sepeda simpen mana? Tuh, paling ujung kiri jalan tanah ๐Ÿ˜๐Ÿ‘Œ .

Ohya, Jarak dari post warlok ke puncak paling 200 meteran. Deket kan? Yoi, jadi kalian gak perlu bawa karabiner, pool tracking dan alat-alat mendaki lainnya. Tapi disarankan menggunakan sepatu safety, running shoes atau kets karena banyak batu-batu tajem disini. Dan juga kalo dateng di atas jam 9 pagi, harap bawa payung yah, biar kulit gak eksotis hehe. Dari puncak Stone Garden, kita bisa melihat view hamparan luas Gunung Karst Masigit. Sayang, gunung ini tidak utuh lagi bentuknya akibat banyaknya aktivitas pertambangan. Ya, saya Cuma bisa berharap dengan adanya aktivitas penambangan tersebut tidak lantas merusak alam di sekitarnya. Apalagi di daerah ini banyak sekali terdapat situs-situs bersejarah seperti Goa Pawon yang dimana pada Goa tersebut banyak sekali di temukan tulang belulang manusia prasejarah.

View arah Barat dari Stone Garden.

Stone Garden ini jika dikelola dengan baik, bisa menjadi wisata yang syarat akan edukasi. Konon, dulu juga di tempat ini adalah titik dasar dari Danau Bandung Purba. Pokoknya, banyak sekali hal yang bisa kita dapat dan pelajari ketika mengujungi Stone Garden ini. Selain itu, disini juga tersedia area untuk kita camping. Gimana ada yang minat?

Waktu sudah menunjukan pukul 12.00. Sudah waktunya turun dan pulang gaiss.. Sebelum pulang, saya tidak lupa mampir di sebuah warung yang sebenarnya dulu juga saya pernah mengunjungi warung tersebut. Jadi, ceritanya pada tahun 2017, saya pernah mengunjungi Stone Garden dan mampir juga di warung yang sama. Penjaga warung kala itu adalah seorang ibu-ibu umur 55 tahunan. Dan sekarang berganti menjadi sepasang suami istri. Sambil pesan indomie dan kelapa degan, saya iseng bertanya, โ€œTeh, Ibu yang dulu disini kemana ya?โ€. Dan si Teteh menjawab โ€œUdah meninggal A, karena sakit. Ouh, Aa teh pelangganya Ibu ya?โ€. Saya jawab aja kalo saya pernah kesini dan di layani oleh Ibu tersebut. Tetehnya melanjutkan โ€œIya A, itu Ibu saya dan sekarang udah meninggal karena sakit. Sempet dibawa ke rumah sakit tapi gak ke tolongโ€. Saya cuma bisa ikut sedih.

Warga bergotong royong membuat saung untuk tempat berteduh para pengunjung.

Singkat cerita indomie dan kelapa degan sudah habis. OK, saya siap gowes menuju rumah dengan segala persiapannya, karena trek kali ini menanjak, macet, ditambah bus, truk bayawak dan truk-truk ekspedisi lainnya. Alhamdulillah, sejam perjalanan berlalu saya pun sampai dengan selamat di rumah. Semua trek tanjakan saya lalui dengan gowes hehe. Lumayanlah buat noob ๐Ÿ˜‰๐Ÿ‘Œ .

Berikut Stone Garden dari jepretan kamera.

View arah selatan. Tampak asap hitam dari aktivitas pabrik penambangan batu.
Area Petilasan di puncak Stone Garden.
View bagian utara. Masih hijau.
Mereka wefie. View bagian utara Stone Garden.
Berteduh di saung.
Hindari terika matahari dengan memakai topi.
View arah barat dari Stone Garden. Lagi-lagi asap hitam membumbung akibat dari aktivitas penambangan batu.
Stone Garden on Landscape.
Design a site like this with WordPress.com
Get started